KoMA

http://www.emocutez.comKami Komunitas Mata Aksara Mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1431 H. Mohon maaf lahir dan Bathin.http://www.emocutez.com
Tampilkan postingan dengan label Aksara Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksara Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Agustus 2010

003. Puisi-Puisi Na Lesmana


HISAB

Setiap malam
aku menatap ke dalam cermin
yang tergeletak di sudut kamarku
seorang lelaki melahirkan bayi-bayi serigala
dari rahimnya yang dingin dan berkarat
purnama, angin dan bunga di atas bukit
menyerupai lukisan. Jika sudah waktunya
aku akan masuk ke dalam cermin
dan menatap jasadku sendiri
yang seringkali bercinta
dengan gadis
putri bulan.

Setiap malam
aku menatap ke dalam cermin
yang penuh debu dan ditelan kabut
seorang lelaki menyusui bayi-bayi serigala
dengan liur yang menderas dari mulut waktu
udara, angin laut dan api keabadian
menjelma tanah makam. Jika sampai umurku
aku akan hidup di dalam cermin
dan menjemput kematian
yang menungguku
di persimpangan
dua dunia.

Setiap malam
aku menatap ke dalam cermin
dan menyatukan diri dengannya
noda hitam, limbah pekat kehidupan
dan puing-puing bangunan mengotori
ruang pikiran. Seorang lelaki membunuh
bayi-bayi serigala dengan sepasang matanya
yang nyalang. Dengan dirinya pula
aku akan berpelukan mesra
dan menciumi wajah
yang tersimpan
di dadanya.


2010


-----------------------------------------------



A GIRL WITH THE RED HAIR
: metha carraya

Di ruang penuh asap, pertemuan kita serupa api.
Aku diam-diam mengirimkan kabar. Tentang puisi
Yang berdesakkan di kepala. Dan kauperempuan
Berambut merahtak pernah memenuhi kenangan
Atas umurku. Tak siapa pun serupa dirimu!

Oh, baby, it’s a wild world.” Bisikmu pada dinding.

Di rumah fanayang berjarak gunungkita tidur.
Mencipta mimpi sendiri. Tentang hidup besok pagi.
Aku mencari-cari jawaban. Atas pertanyaan puisi:
What’s the life?” “What’s a wonderful life?

Tha, aku membaca hatimu. Dengan mata tertutup.
Melalui lubang-lubang cahaya. Ketika waktu semakin
Merahasia. Namun, aku tak mendapati tulisan. Hanya
Sebuah gambar. Membuatku enggan berpulang: O!

I know when to kiss. I know when to kill.”Katamu.
Hidup adalah permasalahan waktu. Dan kesadaran itu
Telah mengairi semua ladang. Dunia segera hilang!

2010


-----------------------------------------------------------------


KAMI KEHILANGAN DONGENG
: wikan satriati

Kami semakin tak mengerti cerita-cerita yang dibisikkan
malam ke telinga kami. Karena pagi dan siang menyerupai
ruang kelas tanpa guru tanpa papan di dinding depan. Kami
samasekali tak memahami buku jaman, lagu usia dan isyarat
yang dikirimkan arloji. Lalu kami enggan tertidur, meski gelap
telah merayap dari lantai ke ranjang. O, di dalam kepalaku
hanya ada keresahan ibu dan keletihan bapak mendaki bukit
menanti takdir yang datang ke rumah kami.

Dan memang kami kehilangan dongeng tentang gadis kecil
penjaga bintang, keinsafan kancil dan bunda di tepi pantai
mengatakan bahwa perahu akan sampai ke sebuah dermaga
di seberang sana. Karena itulah kami tak mampu membangun
istana cahaya di kedalaman hati kami dan merangkai mimpi
dengan jari selentik sunyi. Entah sampai kapan kekosongan
terus mengisi ruang hijau kehidupan kami, dan kerinduan
hanya menggantung di langit-langit kamar.

Barangkali kami mesti mencipta dongeng kami sendiri, meski
jaman hanya menyisakan riuh-redam orasi, dan interupsi basi:
aduhai.

2010

---------------------------------
Na Lesmana, Pria kelahiran 07 Juli 1992 ini aktif di Komunitas Mata Aksara. 
Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa media massa.

Senin, 16 Agustus 2010

002. Puisi-Puisi Jejak Sandi

Sajak buat W.S. Rendra


takakan lesai sajak ini
biar liangkubur membujur pekat

;langit-langit tetap gemerlap

Jogjakarta, July 2009

-----------------------------------------


Semalam di Aula WS. Rendra


masih saja sunyi menyelinap tubuhku
jam di dinding menunjuk pukul tiga
seruang membisu dalam cermin malam

;di balik dinding ada gumam sunyi
merindukanmu


Depok, September 2009

------------------------------------------

Goresan Taman



di taman ini
erangmu menampar sunyi
di antara sajak rindu kau gambar rinai
yang entah aku mengingatnya

pada lelampu dan rerumput kita membisu.
tak ada dongeng yang membisik
hanya desir angin menusuk tubuh

dari malam yang melarut
tidak kah kau tawarkan pada meja dan kursi ini
tentang kotek ayam esok pagi

:aku menunggu kau dalam waktu
membeku !



Bantul, July 2009

--------------------------------------------------------------------

BIODATA:

JEJAK SANDI. Penulis kelahiran Sumatera Selatan pada tanggal 29 Agustus 1986 telah menamatkan pendidikan D-3 nya di Universitas Sriwijaya (Palembang) tahun 2009. Kegemarannya membaca karya sastra dan menulis, telah ia sadari sejak masih duduk di bangku SMP. Saat ini bergiat di Komunitas Mata Aksara, dan Lentera Komunikasi Sastra

Karya: Antologi Puisi Bersama Lekas "Kenang Sebayang"

001. Puisi-Puisi Handoko F Zainsam



Tentang Kisah Kegelisahan Para Suci


Merasuk pada masa dalam kitab para suci
tentang risalah kegelisan. Terasa ada
namun tak ada yang bisa memahami kegundahan
: Diakah penjelas itu? Semesta cinta?

Ke mana perginya angin? Ke mana hilangnya udara?

Sungguh, asing kian mengemuka di sini. Mendekap gelap
menutup matahari dan bulan. Waktu tak segera beranjak
mengakhiri luruhnya beribu-ribu daun saat musim kemarau
adalah jawaban atas pertanyaan yang tak henti membuat
ledakan-ledakan nalar kegundahan dan hilangnya bayang-bayang

Muaralah kegelisahan
I'tikafku di goa suci adalah pencarian atas pertanyaan
Yang tak pernah kutahu apa dan bagaimana jawabannya

Kisah kegelisahan para suci
Adalah bunga di taman halaman rumah
Yang harus disiram saat pagi dan senja

Aku kian hilang
Dalam detak waktunya
Dalam sunyi

Dan shiiingg!!

" Tuan, silakan pulang!"


Jakarta, 26 Juli2010

---------------------------------------------------------------


 Tafsir Cinta Para Pecinta


Masihkah kaupisahkan bunga dengan harumnya
Saat masa lalumu terus kausulam di tiap tarikan nafas
Sedangkan masa depanmu adalah cahaya seusai hujan pagi ini

Di mana rupa kebebasan yang kaudendangkan
Sementara kau masih terbelenggu oleh keriaan
—burung terbang dengan kaki terikat bandul batu
Itulah tafsir atas hakikat cintamu
: Hanya dogma kosong!

Segeralah kaupinang berlian meski tercelup lumpur
karena peradaban taklah usai kauurai tafsir-tafsirnya
atas rerupa persembunyian
pada kesatuan wujud atas penggalannya


Jakarta, Juli 2010

------------------------------------------------------------




Warna Di Mata yang Terbuka



Tak lagi kau bisa sembunyikan warna yang terpantul
lewat mata terbuka selepas percintaanmu dengan
Jibril yang tak henti menyulam partikel-partikel cahaya
yang tumpah meruah meresap dalam dada. Bukan alpha
yang menyudut atas risalah namun proses harus menapak
pada peluk semesta kausalitas. Hingga utuh hakikat dicerap.
Ma’rifatmu adalah jalan keabadian atas kehendak murni
tanpa silsilah sengketa atau sahwak sangka. Samsara. Dian
dalam diam duduk dalam damai. Huwa! Cukuplah kita
berkarib dengan bisa!



Jakarta, 21 Juni 2010